14 Juli 1992 menjadi salah satu tanggal yang tidak akan pernah terlupakan dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang pendidik. Pada hari itulah saya memulai pengabdian sebagai guru di SD Khadijah 3 Surabaya.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah tersebut, suasananya tentu sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang. Saya memulai tugas sebagai satu-satunya guru, dengan jumlah peserta didik yang hanya 11 anak. Sebuah jumlah yang sangat sederhana, tetapi justru dari kelompok kecil inilah perjalanan panjang pengabdian saya sebagai seorang guru dimulai.
Pada masa itu, sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah, Ibu Dwi Komariyah. Beliau menjadi sosok yang turut memberikan arahan dan warna dalam perjalanan awal saya mengajar. Di bawah kepemimpinannya, saya belajar bahwa menjadi seorang guru bukan sekedar menyampaikan pelajaran di depan kelas, tetapi juga tentang bagaimana mendampingi anak-anak, memahami karakter mereka, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa minggu saya sempat mengajar di TK Khadijah 3. Namun dikarenakan tidak ada guru saya pun ditarik untuk mengajar di SD Khadijah 3. Selain mengajar di SD Khadijah 3, saya juga diperbantukan mengajar di TK Khadijah 3 yang pada saat itu sudah pindah lokasi ke Candi Lempung. Tahun demi tahun berlalu, jumlah siswa semakin bertambah. Seiring dengan perkembangan sekolah, akhirnya saya ditetapkan sebagai guru SD Khadijah 3 hingga sekarang.
Mengajar 11 anak mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi saya, setiap anak memiliki cerita, karakter, dan kebutuhan yang berbeda. Dari merekalah saya belajar untuk menjadi guru yang sabar, kreatif, dan penuh perhatian. Keterbatasan jumlah tenaga pendidik dan kondisi sekolah pada saat itu justru menjadi pengalaman berharga yang menempa diri saya.
Hari demi hari saya jalani dengan penuh semangat. Ruang kelas menjadi tempat saya berbagi ilmu, sekaligus tempat saya belajar. Setiap pertanyaan anak-anak, setiap keberhasilan kecil mereka, bahkan setiap kesulitan yang mereka hadapi menjadi bagian dari proses yang memperkaya pengalaman saya sebagai pendidik. Saya menyadari bahwa guru dan murid sebenarnya sama-sama belajar. Guru mengajarkan ilmu, tetapi murid sering kali mengajarkan arti kesabaran, ketulusan, kejujuran, dan perjuangan. Karena itu, perjalanan saya di SD Khadijah 3 Surabaya bukan hanya perjalanan mengajar, melainkan juga perjalanan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Waktu terus berjalan. Sekolah berkembang, jumlah siswa bertambah, tenaga pendidik pun semakin banyak. Berbagai perubahan terjadi seiring perkembangan zaman. Namun, satu hal yang tetap melekat dalam hati saya adalah kenangan ketika pertama kali memulai pengabdian pada 14 Juli 1992.
Alhamdulillah, perjalanan panjang itu telah membawa banyak perubahan. Dari yang dahulu hanya memiliki 11 siswa, kini SD Khadijah 3 telah memiliki 511 siswa dan telah meluluskan siswa sebanyak 29 kali kelulusan. Tanpa terasa, saya telah mengabdikan diri di SD Khadijah 3 selama lebih dari 33 tahun. Kini, ketika menoleh kembali ke masa lalu, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang SD Khadijah 3 Surabaya.
Orang tua memberi nama saya Khadijah. Dahulu saya sekolah di SPG Khadijah Wonokromo dan kini saya dipercaya untuk mengajar di SD Khadijah 3 Candi Lempung. Sungguh sebuah perjalanan yang penuh rasa syukur. Dahulu saya menjadi bagian dari peserta didik di lingkungan Khadijah, dan kini saya mendapatkan kesempatan untuk mengabdikan diri sebagai pendidik di lembaga yang sama.
Kenangan saya yang tidak kalah penting yaitu mengenang sosok pemimpin Yayasan Khadijah pada masa dahulu, yaitu Ustadz Wahab Turcham (almarhum). Beliau adalah sosok yang bagi saya sangat bijaksana, kharismatik, tulus, dan ikhlas dalam mengemban tugas serta amanahnya. Keteladanan beliau menjadi bagian dari sejarah dan perjalanan panjang Yayasan Khadijah yang hingga kini tetap saya kenang. Yayasan Khadijah bernaung dibawah kepemimpinan Ibu Dr. (H.C.) Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. sekaligus seorang gubernur Jawa Timur. Alhamdulillah saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan panjang Yayasan Khadijah dan SD Khadijah 3.
Menjadi guru bagi saya bukan sekadar sebuah pekerjaan. Menjadi guru adalah sebuah pengabdian. Ada kebahagiaan ketika melihat anak didik tumbuh dan berhasil. Ada haru ketika mengenang mereka yang dahulu duduk di bangku sekolah, kemudian melanjutkan pendidikan dan menjalani kehidupan masing-masing. Dan ada kepuasan batin ketika menyadari bahwa mungkin ada sedikit ilmu, nasihat, atau keteladanan yang pernah kita berikan dan kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Saya percaya, seorang guru mungkin tidak selalu menyaksikan langsung sejauh mana pengaruh yang telah diberikan kepada murid-muridnya. Namun, setiap ilmu yang disampaikan dengan ikhlas, setiap nasihat yang diberikan dengan tulus, dan setiap perhatian yang diberikan kepada anak didik akan meninggalkan jejaknya sendiri.
Dari 11 anak, dari sebuah awal yang sederhana, lahirlah perjalanan pengabdian yang begitu panjang dan penuh makna.
SD Khadijah 3 Surabaya telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Di tempat inilah saya belajar tentang arti pengabdian, ketekunan, kebersamaan, dan cinta kepada dunia pendidikan. Semoga lembaga ini senantiasa diberikan keberkahan, terus berkembang, dan mampu melahirkan generasi-generasi yang berilmu, berakhlak, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Dan jika suatu saat saya ditanya, “Kapan perjalanan itu dimulai?”
Jawabannya akan selalu sama: 14 Juli 1992.
Alhamdulillah, 33 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat. Banyak cerita, perjuangan, suka dan duka yang telah saya lalui. Namun satu hal yang selalu saya rasakan:
”saya bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Khadijah dan hingga hari ini masih diberi kesempatan untuk mengabdi.”
